PERJALANAN KELUARGA ASATUPA DAN HOOREN DI DESA OIRATA BARAT

PERJALANAN SOA HAI YAU _ HOOREN di OIRATA BARAT
1.1. Perjalanan soa asatupa, hooren, nomalar
Keluarga Asatupa, Hooren_Nomalar adalah tiga keluarga dari Negri Oirata Barat yang pada awalnya melakukan perjalanan dari arah barat ke arah timur (menurut tuturan para leluhur mereka dari suatu tempat yg jauh. Mereka melakukan perjalan dengan menggunakan perahu menyingahi berbagai pulau sebelum akhirnya tiba di Pulau Kisar (dahulu bernama Yotowawa daisuli) dan menetap di Desa Oirata Barat hingga kini. Perjalanan keluarga ini hingga tiba di Pulau Kisar diperkirakan pada sekitar Tahun 1100-an Masehi
Menurut tuturan para leluhur bahwa suatu ketika terjadi sebuah bencana besar sehingga mengakibat moyang keluarga Asatupa, Hooren Nomalar  meninggalkan tempat asal mereka yang menurut tuturan dalam upacara adat merka selalu menuturkan bahwa keluarga ini berasal dari sebuah tempat yang bernama Pirael dan Sama-ria.
Moyang keluarga Asatupa bernama Lartai Tamindael dan Namkudael Lawandael, mereka melakukan perlayan meninggalkan tempat asal mereka bersama keluarga Hooren dengan menggunakan perahu masing-masing (keluarga Lartai Tamindael dan Namkudael Lawandael  dengan satu perahu, keluarga Hooren satu perahu). Diperkirakan pelayaran yang panjang dari pulau ke pulau membawa mereka tibah dan menetap sementara waktu di suatu tempat diketahui bernama Hailai Hatawai tepatnya dipulau jawa. Setelah menetap beberapa waktu ditempat ini  kedua keluarga ini kemudian memutuskan untuk melanjutkan pelayarannya lagi untuk mencari tempat sesuai dengan keinginan mereka.  Dalam pelayaran kali ini ketika kedua perahu ini berlayar terjadilah badai sehingga mengakibatkan kedua perahu ini terpisah satu sama lain.
Perahu keluarga Hooren di beri nama “koyali” akhirnya tibah disebuah pulau yang menurut tuturan para leluhur bernama “Padlau Makasar”. Di pulau ini keluarga hooren sempat menetap beberapa waktu namun seiring dengan berjalannya waktu keluarga hooren tidak merasa nyaman di pulau ini sehingga mereka memutuskan untuk melanjutkan pelayarannya lagi.
Dalam pelayaran kali ini perahu keluarga hooren tibah disebuah pulau yang bernama pulau Seram (Maluku) tepatnya dipesisir pantai Hatu. Adapun keluarga hooren ini terdiri dari 5 bersaudara yang terdiri dari Hayoto Sarifu, Hayoto Wairata, Hayoto Huli, hayoto utumuli, dan Hayoto Kunkelu, dari kelima saudara ini Hayoto Sarifu dipercayakan untuk menjadi nahkoda perahu Koyali. Ketika perahu keluarga hooren tibah dipesisir pantai hatu, daerah itu sudah dihuni oleh penduduk yang kala itu dipimpin oleh seorang kapitan yang bernama walalayo. Pada saat itu penduduk setempat berniat untuk berperang melawan keluarga hooren sebagai bentuk penolakan terhadap kehadiran perahu mereka, namun atas pertimbangan Kapitan Walalayo maka masyarakat setempat dapat menerima kehadiran keluarga hooren. Kemudian atas kerja sama penduduk setempat perahu “koyali” ditarik melewati kali Hatulai dan menurut tuturan para leluhur perahu koyali tersebut kemudian menjadi batu yang kini berada di kali hatu.
Oleh karena kehadiran keluarga Hooren di Pulau seram tersebut maka kapitan walalayo dan kapitan timanoya bersama keluarga hooren bersepakat untuk membentuk negeri Hatu.  Setelah negeri Hatu terbentuk merekapun membagi negeri itu menjadi tiga bagian kepemilikan lahan, yang terbagi menjadi tiga bagian yakni lahan dari kali Hatulai sampai Hatumete kearah matahari terbit menjadi milik keluarga hooren yakni Hayoto Wairata, kemudian dari air hatulai ke tengah kampong menjadi milik kapitan Timanoya, selanjutnya dari tengah Hatu kearah matahari terbenam menjadi milik kapitan walalayo. Sedangkan keluarga hooren lainnya yakni Hayoto sarifu, hayoto huli, hayoto utumuli dan hayoto kunkelu menempati daerah yang disebut Teluti hingga kini.
Hayoto wairata memiliki turunan tiga anak laki-laki yang diketahui bernama  Wedlen Lakpali, Dinken, dan Tilkay. Dalam perkembangannya dikemudian  hari keluarga Hayoto Wairata merasa ketidak cocokan di daerah itu, sehingga kemudian mereka memutuskan pelayarannya lagi guna mencari daerah pemukiman baru sekaligus berniat mencari keberadaan keluarga Lartai Tamindael dan namkudael Lawandael. Dalam pelayaran kali ini perahu mereka kemudian tibah di daerah Masamae Umapusu atau pulau Timor-timor. Ditempat inilah kemudian keluarga hooren menemukan keluarga Lartai Tamindael dan namkudael Lawandael. Pada saat itu keluarga lartai Tamindael menempati daerah Fluru dan Namkudael  lawandael menempati daerah Kom Lospalos.
Pada suatu malam lartai tamindael melihat nyalah api sebuah pulau kicil yang kini diketahui bernama pulau kisar, sehingga menimbulkan niat daripada lartai tamindeal untuk mendatangi pulau itu. Kemudian beberapa waktu kemudian mereka memutuskan untuk berlayar menuju sumber nyalah api yang mereka lihat itu. Menurut tuturan parah leluhur konon katanya sebelum mereka hendak berangkat kepulau kisar dari fluru timor leste,  mereka meninggalkan kendi air pada tempat itu yang kemudian kendi air itu berubah menjadi sumber mata air abadi hingga kini.
Ketika keluarga Lartai Tamindael tibah di pulau kisar, ternyata telah terbentuk struktur tatanan adat pada negeri Manheri Mauhara (oirata timur dan barat), sehingga keluarga Lartai tamindael tidak mendapat jabatan yang baik, sehingga mereka merasa kecewa dan memutuskan untuk melanjutkan pelayaran mereka,  dan kemudian pelayaran mereka tibah dipulau Romang pesisir pantai Solat. Kemudian mereka melabuhkan parahu mereka dan mendarat mendiami daerah tersebut tepatnya di sebuah bukit yang bernama ILPAKA ILERE. Setelah beberapa waktu mereka  menetap disini lahirlah anak lartai yang bernama Mauasa dan Unasa. Dalam perkembangannya kemudian ditempat ini juga Lartai Tamindael meninggal dunia akibat usia yang semakin tua.
Di timur leste keluarga Hooren menempati sebuah daerah yang disebut Iliara Setiara bersama keluarga Hunlori dan Paumodo. Pada suatu ketika terjadi bencana air bah sehingga mengakibatkan banjir yang menghanyutkan seisi kampung itu, keluarga hooren terhanyut dan kemudian berpegang pada seekor babi, sehingga menurut kepercayaan mereka bahwa babi tersebut telah menyelamatkan mereka dan sebagai bentuk penghargaan itulah dikemudianhari mereka menamakan rumpun keluarga mereka dengan sebuatan Hayau.
Setelah keluarga hooren selamat dari malapetaka tersebut mereka berniat mengngunjungi lartai tamindael untuk bersama mereka mendiami daerah fluru namun ternyata lartai tamindael telah berangkat meninggalkan daerah fluru.
Atas informasi masyarakat setempat maka keluarga hooren kemudian mengambikl keputusan untuk berlayar mengikuti lartai tamindael di kisar. Setelah keluarga hooren tibah di Kisar ternyata keluarga laratai tamindael telah meninggalkan kisar menuju romang. Keluarga hoorenpun memutuskan mengikuti lartai tamindael di romang.
Namun pada saat di Kisar salah satu sudara perempuan dalam keluarga hooren yang bernama Hualaiholo sedang hamil Tua maka mereka memutuskan untuk meninggalkan saudari perempuan mereka di Kisar. Mereka kemudian membuat sebuah rumah pohon di daerah sekitar Huli wer (oirata) menjadi tempat tinggal hualaiholo untuk nantinya ia melahirkan. Tujuan pembuatan rumah pohon tersebut untuk melindunginya dari binatang buas teristiewa seekor ular yang sedang hidup di goa sekitar daerah itu. Mereka kemudian meninggalkan seekor ayam jantan untuk menemani saudari mereka saat itu. Setalah itu keluarga hooren kemudian berangkat menuju pulau romang, merekapun kemidian tibah pesisir pantai jerusu pulau romang, mereka kemudian mendarat dan menuju bukit Ilhai Ilteti untuk bermukim disitu.
Setelah mendiami pulau romang beberapa waktu panjang keluarga lartai tamindael (Mauasa dan Unasa) kemudian berangkat kembali ke Kisar dengan menggunakan perahu yang bernama “Asalon”. Perahu Asalon pun mendarat di pantai Kiklailai (Jawalan) kisar, dan konon katanya perahu mereka kemudian menjadi batu yang kini berada dipesisir pantai jawalan bagian barat. Kemudian setelah mereka berjalan meninggalkan pantai jawalan, tanpa diduga air laut mengalir mengikuti jejak meraka, untuk mencengah agar air laut tidak mengikuti mereka lebih jauh lagi kedaratan, maka Mauasa dan Unasa kemudian berdoa agar air tidak meningikuti jejak mereka, kemidian mereka meninggalkan siri pinang ditempat itu sebagai batas air, yang konon katanya siri pinang itu menjadi batu. Setelah air tidak lagi mengikuti jejak mereka maka merekapun melanjutkan perjalannya dan bermukim di daerah yang bernama Kiklailaru yang kemudian hari tempat tinggal mereka berubah nama menjadi Mauasa hingga kini.
Ketika keluarga Mauasa dan Unasa tinggal di daerah kiklailaru, salah satu anak dari mereka yang bernama Hainai menikahi seorang perempuan dari mata rumah Halono dari Wonreli suku meher yang bernama Rarleli yang memliki starata tengah (bur). Pernikan mereka mendapat sorotan masyarakat negeri manheri mauhara akibat perbedaan strata dimana Hainai berstrata atas (marna). Untuk menyamakan starata istrinya maka dibuat tebusan berubah alas kaki sang istri dengan emas agar menjadi setara.
Setelah beberapa waktu bermukim di kiklailaru mereka memutuskan untuk berpindah ke daerah hunlori, kemidian berpindah lagi ke kaki bukit Horok yang kemidian disebut serwalain. Istilah serwalin ini muncul akibat dari suatu ketika mereka didatangi iblis berkaki satu yang dalam bahasa oirata disebut Serwalin. Dari serwalin ini mereka kemudian pindah lagi daerah yang disebut Darmasa dan menetap di daramasa hingga kini.
Dan dikemudian hari keluarga hooren di Romang memutuskan untuk kembali lagi ke kisar menyusul keluarga lartai tamindael sekaligus ingin melihat saudari perempuan mereka hualailoho. Merekapun bertolak ke Kisar dan tibah dipesisir pantai lilit (oirata), kemudian merekapun pergi melihat keadaan saudara perempuan mereka yang saat itu telah melahirkan anak laki-laki kembar yang diberinama Asalair dan Ma’alair.
Kemudan ketiga laki-laki keluarga hooren membagi tempat tinggal mereka masing sebagai lahan pertanian mereka yakni daerah tempat tinggal turunan Wedlenlakpali disebut Talhain (pamali), kemudian Dingkentahinlaru tetap di huliwer sedangkan Tilkai menempati daerah yang disebut Wo’o teti.
Atas permintaan keluarga Tuan Tanah Lewen mali asamali maka setiap orang berbahasa sama dengan tuan tanah yakni bahasa woirata harus tinggal bersamanya di puncak gunung manheri mauhara, maka kemudian keluarga hooren pun diminta untuk pergi bermukim di Bukit Mauhara. Pada saat pembagian strata kemasyarakatan, ketiga turunan ini keluarga hooren tidak mau ada perbedaan diantara mereka maka mereka kepada tuan tanah untuk memberikan strata yang sama untu ketiganya, maka merekapun diberikan strata kedua (Rurin).
Keberadaan kelurga hooren di bukit Mauhara berdampingan dengan dengan keluarga Lartai Tamindael yang kemudian menjadi Marna (orang tua) bagi keluarga hooren. Pada suatu ketika terjadi selisi paham antara keluarga hooren dengan orang tua mereka (keluarga Lartai tamindael)  maka keluarga hooren memutuskan untuk berpindah tempat tinggal dan kemudian oleh karena kawin mawin maka oleh moyang Sehaka di Negeri Manheri memberikan tempat tinggal di Negeri Manheri atas persetujuan Lewenmali asamali. Keluarga hooren pun membangun rumah bai mereka diluar pagar batu Negeri Manheri.
Pasca kemerdekaan NKRI seluruh masyarakat Manheri maupun Mauhara memutuskan untuk membangun pemukiman baru pada lahan-lahan pertanian mereka di bawah bukit Negeri maunheri dan Mauhara hingga kini.
Hingga kini keluarga hooren terhimpun dalam beberapa marga (fam) yakni, Wedilen, Ratuhanrasa, Tahinlaru, Tilukay dan Perepitin. Dan semua penghuni Negeri Mauhara membentuk sebuah desa yang kini disebut Desa Oirata Barat yang kini di Pimpin Oleh Yohanis Wedilen dipilih secara demokrasi oleh masyarakatDesa Oirata Barat.

Demikian sekilas sejarah keluarga Hooren di Desa Oirata Barat Kecamatan Pulau-pulau Terselatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ASAL USUL NEGERI OIRATA BARAT